Page 1 of 10

Analisis Indikator Financial Stress Sebagai Alat Untuk

Mengukur Tingkat Kestabilan Aspek Keuangan Di Indonesia

Mas Amah1

1,2 Universitas IBA Palembang (UPY), email: masamahhamdan@gmail.com, Palembang

1. PENDAHULUAN

Kesulitan yang dihadapi dalam membuat definisi kestabilan keuangan tidak menghalangi

kestabilan aspek keuangan dalam berperan menjadi salah satu syarat penting untuk menjaga

kesinambungan dan keseimbangan perekonomian. Kestabilan aspek keuangan menjadi lebih penting

setelah munculnya perdagangan uang di pasar uang itu sendiri. Dalam hal ini, Sektor keuangan

terbagi menjadi institusi keuangan berbasisperbankan dan keuangan berbasis non perbankan. Badan

keuangan bank adalah badan yang menghimpun dana dari dan untuk masyarakat yang berbentuk

pinjaman atau kegiatan lainnya. Dana yang dihimpun dapat berbentuk giro, tabungan dan deposit

berjangka. Selain itu, lembaga bank juga mendapat hak untuk menciptakan uang giral dengan

peroperasian mengikuti sistem keuangan. Di sisi lain terdapat lembaga keuangan non bank, yang

mana hanya beroperasi dalam kegiatan keuangan saja dan tidak dapat mengumpulkan dana, baik

berupa giro, deposito berjangka ataupun tabungan seperti lembaga keuangan bank. Lembaga ini juga

tidak dapat menciptakan uang giral dan hanya beroperasi dengan berpatokanpada aspek produksi

produk atau jasa dari aspek produksi.

Organisasi-organisasi ini beroperasi di sektor keuangan. Setiap negara berjuang untuk

stabilitas dalam sistem keuangannya. Terciptanya stabilitas keuangan sangat dipengaruhi oleh

subsektor keuangan. FKSSK (Forum Koordinasi Stabilitas Sektor Keuangan) yang beranggotakan

ABSTRACT

Many elements may influence defining financial sector stability can be a

challenge. The sub-stress level of the financial sector can be used as a

proxy to measure the soundness of the financial sector. One technique for

assessing the stability of the financial sector is the financial stress index,

which is a composite index whose elements can be broken down using

factor analysis. Because the index is dominated by the banking component

which is very sensitive to the volatility of macroeconomic conditions, I

conclude that the financial stress index formed from bank variables is the

index with the highest significance for financial stability in Indonesia.

The inflation rate and BI rate are indicators to assess this condition.

ARTICLE HISTORY

Received 9 January 2023

Accepted 25 March 2023

KEYWORDS

financial sector,financial stress, stability

AKMENIKA: JURNAL AKUNTANSI

& MANAJEMEN

Vol. 20 No.1 April 2023, 691-700

Page 2 of 10

Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Otoritas Jasa

Keuangan, kini bertugas menjaga stabilitas keuangan di Indonesia. (OJK). Akibat adanya masalah

keuangan yang terjadi di tingkatan lokal, nasional, dan internasional, seperti permasalahan keuangan

tahun 1997–1998 dan krisis keuangan tahun 2008, stabilitas keuangan menjadi subjek yang selalu

meningkat dan menjadi buah bibir berbagai kalangan. Adanya krisis ini merupakan tanda tidak

stabilnya sektor keuangan. Lembaga keuangan di negara lain mengalami efek kaskade sebagai akibat

dari volatilitas ini.Tidak stabilnya sistem keuangan dapat disebabkan oleh berbagai variabel internal

dan eksternal. Terdapat beberapa bahaya yang terkait dengan aktivitas sistem keuangan, antara lain

risiko operasional, pasar, likuiditas, dan kredit.Menurut indikator ekonomi terkini, perekonomian

negara masih berjalan cukup baik. Hal itu ditunjukkan oleh neraca perdagangan yang terus

menunjukkan surplus, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang berada di zona ekspansi,

dan indikator pertumbuhan belanja konsumen yang semuanya masih kuat.

Sistem keuangan semakin terintegrasi tanpa penundaan atau batasan wilayah sebagai akibat

dari tren globalisasi yang berkembang di bidang keuangan yang didukung oleh kemajuan teknologi.

Selain itu, karena produk keuangan menjadi lebih rumit, mereka menjadi lebih dinamis dan beragam.

Banyak kemajuan ini dapat membuat lebih sulit untuk mengatasi ketidakstabilan ini karena

meningkatkan dan mendiversifikasi faktor-faktor yang dapat menimbulkan sistem keuangan menjadi

tidak stabil. Aktivitas dalam sistem keuangan seringkali disertai dengan risiko seperti risiko kredit,

risiko likuiditas, risiko pasar, dan risiko dari kegitan operasi (Bank Indonesia, 2012). Risiko kredit

adalah risiko yang diakibatkan oleh kegagalan debitur untuk melakukan pembayaran pokok atau

bunga secara terjadwal sebagaimana ditentukan dalam perjanjian kredit. Salah satu bahaya utama

yang terkait dengan pelaksanaan pinjaman bank adalah risiko kredit. Bank menghadapi risiko tidak

memiliki cukup uang tunai atau investasi jangka pendek yang dapat dicairkan dengan cepat untuk

memenuhi permintaan dari deposan atau kreditur. Risiko ini timbul dari ketidakmampuan bank

untuk memenuhi kewajiban finansialnya tepat waktu akibat kegagalan pengelolaan antara sumber

pendanaan dan investasi (mismatch) atau kekurangan likuiditas. Risiko pasar adalah kemungkinan

posisi neraca dan off-balance sheet akan kehilangan nilai karena pergeseran variabel pasar termasuk

suku bunga, harga saham, dan harga komoditas. Risiko darikegiatanoperasi adalah kemungkinan

bank tidak dapat menjalankan bisnis secara reguler karena bencana seperti kebakaran atau bencana

alam, serta peristiwa lain seperti gangguan data yang disebabkan oleh peretas yang masuk ke pusat

data bank. Risiko ini dapat timbul akibat adanya kecurangan, kesalahan, ketidakjelasan ketentuan

struktur pengendalian intern, ketidakcukupan proses, atau gangguan pada sistem informasi

manajemen, komunikasi, dan pembayaran bank. Berikut risiko dalam sistem keuangan menurut Bank

Indonesia pada tahun 2012, antara lain:

1. Risiko kredit, yang mucul ketika debitur tak mampu melaksanakan kewajiban pembayaran.

Baikangruran pokok juga bunga selayaknyaketentuan di awal. Risiko ini

adalahsatudaririsikointi dalam kegiatan kredit bank

2. Risiko likuiditas, yang muncul ketika bank tidak mempunyai kas ataupun asset lancer yang

dapat dicairkan segerauntuk memenuhi permintaan debitur. Risiko ini munculdikarenakan

adanya ketidakmampuan dalam halmengelola dan sumber dan. Dapat juga dikarenakan

kurangnya dana yang berakibat ketidakmampuan bank dalam pemenuhan pada tanggal yang

telah ditentukan.

3. Risiko pasar, kerugian pada posisi laporan keuangan dan rekening administratif yang

disebabkan oleh variable pasar yang bergerak atau berubah, misalnya tingkatan suku bunga,

saham, kurs valuta asing dan komoditi.

4. Risiko Operasional adalah bahaya bahwa bank mungkin tidak dapat melakukan bisnis

regulernya karena kebakaran, bencana alam, atau keadaan tak terduga lainnya, seperti ketika

peretas berhasil menembus pusat data bank dan merusak data. Risiko ini dapat timbul akibat

adanya kecurangan, kesalahan, ketidakjelasan ketentuan struktur pengendalian intern,

ketidakcukupan proses, atau permasalahan dalam sistem informasi manajemen, komunikasi,

dan pembayaran bank.

Page 3 of 10

Sistem keuangan sangat penting untuk kesehatan perekonomian. Sistem keuangan berfungsi

sebagai komponen sistem ekonomi untuk mendistribusikan uang dari yang surplus kepada yang

defisit. Alokasi dana tidak akan terlaksana dengan baik jika sistem keuangan tidak adanya

ketidakstabilan dan ketidakefisienan sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Pengalaman menunjukkan bahwa menyelamatkan sistem keuangan yang tidak stabil, apalagi jika

menyebabkan krisis, akan sangat mahal. Ketidakstabilan dalam sistem keuangan dapat

menyebabkan sejumlah keadaan yang merugikan, termasuk:

1. Transmisi kebijakan moneter tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga tidak efektif.

2. Penyaluran pembiayaan yang kurang memadai menyebabkan fungsi ini tidak beroperasi

dengan semestinya dan mengganggu perkembangan ekonomi. Ketidakpercayaan publik

terhadap sistem keuangan, yang biasanya diikuti dengan tindakan investor yang panik dan

menarik uang, menciptakan masalah likuiditas.

3. Biaya yang sangat tinggi untuk mencegah keruntuhan sistemik dan menyelamatkan sistem

keuangan.

Illing dan Liu (2003) mengklaim bahwa jika ada permasalahan dalam subsektor,

permasalahan tersebut akan meluas ke subsektor lainnya, membuat Gadanecz dan Jayaram (2008)

mengklaim tentang hubungan antara sektor keuangan dan sektor riil sektor terkait dengan

stabilitas keuangan. Keterkaitan tekanan antar subsektor memberikan wawasan tentang stabilitas

sektor keuangan. Menurut Hakiko dan Keeton (2008), sektor keuangan dapat mengalami stress

ketika terjadi gangguan yang mengganggu kemampuan sektor keuangan untuk berperan sebagai

perantara. Secara umum, pengertian tingkat kestabilanaspekkeuanganadalah keadaan sistem

keuangan yang terdiri dari lembaga keuangan, financial marketdan infrastruktur keuangan yang

mampu menahan tekanan. Kestabilan aspek keuangan tersebut sukar untuk didefinisikan,

sehingga diperlukan proksi untuk mengukurnya sebelum dapat diartikan.

Proksi risiko digunakan di setiap sub-sektor keuangan untuk mengukur tekanan di sektor

keuangan. Stabilitas keuangan telah dikuantifikasi dan diperiksa dalam sejumlah penelitian dalam

kaitannya dengan tekanan yang ditimbulkannya. Untuk menggunakan tekanan pada sektor

keuangan sebagai pengukur stabilitas sektor keuangan, Illing dan Liu (2003), Morales dan Estrada

(2010), dan Korohama (2013) meneliti kestabilan aspek keuangan dalam hal proksi tekanan dengan

membuat indeks tekanan keuangan. Setiap industri rentan terhadap stres, antara lain:

1. Kecemasan perbankan

Secara khusus, tekanan pada industri perbankan dan indikator umum yang digunakan untuk

menunjukkan masalah pada neraca bank, seperti proporsi kredit bermasalah sebagai ukuran risiko

gagal bayar, (ii) bagian simpanan dalam PDB, dan (iii) bagian dari semua pinjaman yang

dikeluarkan dalam PDB.

2. Stres Mata Uang dan Valuta Asing

Hal ini, khususnya kesenjangan nilai tukar yang signifikan, dapat berdampak pada

kemampuan suatu negara untuk mempertahankan ekspor dan impor yang stabil. Stres terkait

pertukaran mata uang Depresiasi mata uang lokal yang signifikan disebut sebagai tekanan pada

nilai tukar. Karena berpotensi berdampak langsung terhadap ekspor dan impor suatu negara,

stabilitas nilai tukar merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang penting untuk dijaga.

Menggunakan metode penilaian hybrid volatilitas-rugi (CMAX), Patel & Sarkar (1998) dalam Illing

& Liu (2003) mengidentifikasi krisis pasar valuta asing.

3. Tekanan Utang

Secara khusus, kecemasan tersebut disebabkan oleh utang yang sangat besar kepada negara

asing, yang dapat memicu krisis utang. Hutang internasional berskala besar adalah salah satu

contoh dari shock atau stress hutang. Jika guncangan tinggitersebuttidakdikeloladengan baik,

maka akan terjadi krisis utang, khususnya ketika negara tidak mampu membayar utang luar

negerinya. Tujuan utang luar negeri adalah sebagai metode alternatif untuk mendanai defisit

anggaran.

4. Tekanan Ekuitas

Page 4 of 10

Lebih khusus lagi, tekanan yang disebabkan oleh penurunan mendadak indeks pasar secara

keseluruhan. Krisis pasar modal disebabkan oleh guncangan atau tekanan yang disebabkan oleh

penurunan indeks pasar secara keseluruhan yang cepat. Penurunan ini meningkatkan

kemungkinan kerugian. Risiko yang lebih tinggi dan ketidakpastian yang lebih besar mengenai

pengembalian aset dapat mengakibatkan penurunan indeks secara tiba-tiba. Indeks tekanan

keuangan secara umum merupakan indeks yang dibentuk oleh satu atau lebih variabel tekanan di

sektor keuangan. Bergantung pada subsektor apa pun dari sektor keuangan suatu negara yang

paling dominan, beberapa faktor masuk ke dalam menciptakan indeks tekanan keuangan.

Komponen yang membentuk financial stress index yang paling sering digunakan antara lain kredit

macet dari sektor perbankan, idiosinkratik stress dari pasar saham, penyebaran risiko dari pasar

obligasi, dan CMAX dari pasar valuta asing.

Indeks tekanan keuangan ini dapat dibuat dengan menggunakan berbagai metode, termasuk

analisis faktor, bobot berbasis agregat kredit agregat, bobot sama varians, dan transformasi

variabel yang ada (Illing dan Liu, 2003). Indeks financial stress akan dihitung dalam penelitian ini

dengan cara yang sama dengan penelitian sebelumnya, namun menggunakan berbagai indikator

financial stress.

2. KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Subsektor perbankan, pasar saham, valuta asing, obligasi, dan lembaga keuangan non bank

(IKNB) semuanya berdampak pada stabilitas keuangan. Akan ada satu atau lebih variabel risiko

untuk setiap sub-sektor. Kelangsungan variabel-variabel ini kemudian akan diperiksa, dan yang

lolos pemeriksaan akan digunakan sebagai elemen penentu dalam pembuatan indeks tekanan

keuangan. Struktur penelitian ini ditunjukkan pada Bagan 1.

Stres pada subsektor perbankan /banking stress biasanya terlihat dengan kredit bermasalah

(NPL). NPL adalah variabel yang memperlihatkan suatu risiko suatu bank akan mengalami gagal

bayar. Pada penelitian ini selain meggunakan NPL akan tetapi juga menggunakan variabe-variabel

lain yang diperoleh dari laporan kinerja perbankan secara umumSeperti Net Interest Margin

(NIM), Pembayaran Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO), Return On Asset (ROA),

Loan to Deposit Ratio (LDR), dan rasio kecukupan modal (CAR). Variabel tersebut

mengindikasikan risiko bank karena menggambarkankemampuanpihak bank dalammelaksanakan

STABILITAS

KEUANGAN

Perbankan

Pasar

Modal

Pasar

Valas

Pasa r

Obligasi

IKNB

Page 5 of 10

kewajibannya sehingga kinerja perbankan tercermin pada semua variabel tersebut. CAR dan LDR

adalah variable yang mampumenghitungkestabilanaspekkeuanganmenurut table yang

ditelitiGardanecz dan Jayaram (2008).

Penurunan indeks pasar yang signifikan yang dapat mengakibatkan kerugian seringkali

menimbulkan tekanan pada pasar modal (capital market stress). Idiosyncratic stress factor dan

indeks harga saham gabungan (IHSG) merupakan indikator stress pada pasar modal, sedangkan

depresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing yang signifikan mengindikasikan stress

pada pasar valuta asing (currency stress).

Menurut kutipan penelitian Illing dan Liu (2003) oleh Patel dan Sarkar dari tahun 1998,

currency stress dapat dideteksi pada suatu variabel dengan menggunakan pendekatan CMAX.

Untuk menganalisis volatilitas nilai tukar, gunakan metode ini. Nilai tukar terbagi oleh mata uang

asing pada saat periode t terjadi disebut dengan satuan pengukuran. Dolar AS (USD) dan Yen

Jepang adalah dua mata uang asing yang digunakan dalam penelitian ini untuk membuat

indikator tekanan mata uang (JPY). Stress utang, atau tekanan pada pasar obligasi, bisa terjadi

ketika utang nasional suatu negara begitu tinggi sehingga tidak dapat dibayar. Dengan

menganalisis obligasi swasta dan pemerintah, tekanan utang dapat diukur. Faktor-faktor yang

dipakai merupakancorporate security yield, government security yield, dan risk spread.

Dana pensiun, Perusahaan asuransi, , lembaga pembiayaan, dan lembaga pembiayaan lainnya

merupakan subsektor IKNB sektor keuangan. Variabel yang dapat mengindikasikan stres pada

perusahaan dana pensiun atau yang membawa risiko akan diteliti dalam penelitian ini. Rasio

manfaat terhadap biaya adalah variabelnya.Selain fakta bahwa informasi data untuk sebuah

perusahaan dana pensiun yang tersedia di OJK, penggunaan perusahaan dana pensiun didasarkan

pada fakta bahwa itu adalah salah satu perusahaan besar yang dominan di IKNB dan sektor

keuangan.

Loan-to-deposit ratio (LDR), Non-performing loan (NPL), return on assets (ROA), operational

payment and operational income (BOPO, net interest margin (NIM), dan capital adequacy ratio

(CAR) bank umum dari Statistik Perbankan Indonesia (SPI), imbal hasil obligasi pemerintah dan

korporasi dari Danareksa, serta nilai indeks harga saham gabungan dari Yahoo Finance adalah

data yang digunakan. Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) memberikan informasi

nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan OJK memberikan informasi pembayaran manfaat

pensiun dan penerimaan iuran.

3. METODE PENELITIAN

Analisis faktor adalah metode analisis yang digunakan. Untuk menghasilkan satu atau lebih

set variabel yang kurang dari jumlah variabel awal, prosedur analisis faktor ini akan

mengidentifikasi hubungan independen antara sejumlah variabel. Karena analisis faktor memiliki

dua tujuan utama, pada penelitian ini digunakan teknik analisis faktor 1) mengurangi jumlah

variabel dan (2) untuk menemukan struktur hubungan variabel-variabel tersebut adalah Salah satu

tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mencari indikator kesetabilankeuangan yang dapat

digunakan sebagai indikator tekanan keuangan, dapat dicapai dengan menggunakan metode ini.

Untuk menggunakan variabel-variabel ini sebagai indikator alternatif stabilitas keuangan, metode

ini bisa mengidentifikasi variabel stres yang terbaik yang mana memiliki dampak terbesar pada

stabilitas sektor keuangan. Karena analisis faktor merupakan komponen dari teknik

interdependensi, maka tidak ada variabel dependen atau independen, dan analisis faktor tidak

memiliki model seperti teknik ketergantungan lainnya (Santoso, 2002).

Indeks stres keuangan dibuat untuk setiap faktor setelah faktor-faktor diidentifikasi memakai

cara/teknik dari analisis pada faktor. Angka-angka untuk indeks stres keuangan dapat berasal

dari berbagai indeks. Ada sejumlah jenis indeks yang berbeda, termasuk indeks fiskal, indeks Z,

dan indeks komposit. Selain itu, tujuan dari ketiga jenis indeks tersebut berbeda. Menurut Berger

dan Klapper (2009), Z-index adalah ukuran kemungkinan kegagalan perusahaan. Karena fakta

bahwa variabel Z-index adalah mikrovariabel dan tujuannya adalah untuk menentukan indikator

stres mana yang mampu menghitung tingkat kestabilan dalam aspek keuangan, variabel ini tidak

dapat digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini dapat menggunakan indeks fiskal karena

Page 6 of 10

subsektor dana pensiun IKNB memiliki indikator tekanan keuangan pada faktor 2 dan 3.

Kebijakan pemerintah yang memberi impact pada stabilitas sektor keuangan dan sektor fiskal

adalah pembentukan dana pensiun. Karena fokus studi pada sektor keuangan, Indeks Fiskal tidak

dapat digunakan dalam penyelidikan ini.

Catatan tekanan moneter dalam ulasan ini padahakikatnya adalah daftar komposit

(gabungan) yang terdiri dari faktor-faktor yang telah dicoba menggunakan pemeriksaan faktor.

Nasoetion dan Rambe (1983) menemukan bahwa indeks komposit berguna untuk memaksimalkan

keragaman jumlah data karenavariabel yang dipakai yang digunakan dalam penelitian ini cukup

beragam. Indeks komposit dihitung dalam dua tahap. Langkah pertama adalah menggunakan

rumus berikut untuk menentukan indeks setiap variabel:

P ( t) - P ( t ) min

S (t ) =

P (t )max - P (t ) min

Penjelasan :

S (t) : indeks variabel i

P (t) : nilai variabel i

P (t) min : nilai terkecil variabel i

P (t) maks : nilai terbesar variabel i

Langkah selanjutnya, menggabungkan banyak variabel yang telah dihasilkan menjadi satu

elemen untuk membuat indeks tekanan keuangan, yaitu indeks komposit.

4. PEMBAHASAN

Kemungkinan dari empat belas variabel tegangan yang membentuk banyak komponen pada

awalnya dinilai (lihat Tabel 1.). Oleh karena itu, hanya sebelas variabel yang dapat diperiksa dan

digunakan dalam penelitian ini. Pendapatan Operasional (BOPO), Pembayaran Operasional dan Loan

to Deposit Ratio (LDR), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Pendapatan Operasional (BOPO),

Non- Performing Loan (NPL), Yield Obligasi Korporasi (yield cor), Imbal Hasil Obligasi Pemerintah

(yield gov), Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), Rasio Tunjangan Dana

Pensiun (RM), dan CMAXS adalah sebelas variabel tersebut.

Page 7 of 10

Kesebelas variabel tersebut yang telah di proses dalam analisis dapat disimpulkan menjadi

beberapa faktor saja, sesuai Tabel 1 di atas, sebab dengan satu faktor nilai eigennya adalah 6,41

(lebih besar dari 1), dengan dua faktor nilai eigennya adalah 1,76 lebih besar dari angka 1. Dengan

tiga faktor, nilai eigennya adalah 1,27 lebih besar dari angka 1, tetapi dengan empat faktor, nilai

eigennya di bawah angka 1, yaitu 0,68, sehingga dilakukan proses pemfaktoran. Ini terbukti dari

kolom total kolom nilai eigen pertama. Matriks komponen dari proses rotasi ditunjukkan pada

Tabel 2, dan memiliki sejumlah faktor dan variabel komponen serta menampilkan distribusi

variabel sangat jelas dan realistis. Variabel rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR), pembayaran

operasional dan pendapatan operasional (BOPO), pengembalian aset (ROA), imbal hasil obligasi

pemerintah (yield gov), indeks harga saham gabungan (IHSG), dan imbal hasil obligasi korporasi

(yield cor) semuanya termasuk dalam faktor 1 karena menurut kolom 1, semuanya memiliki

korelasi yang tinggi (di atas 0,50) dengan faktor 1.

Rasio Manfaat Dana Pensiun (RM)), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio

(LDR), dan Non Performing Loan (NPL) merupakan variabel yang termasuk dalam faktor 2 karena

menurut blok 2 ketujuh variabel tersebut menunjukkan ikatan yang tinggi (lebih dari 0,50) dengan

faktor 2. CMAXS , rasio manfaat dana pensiun (RM), dan Net interest margin (NIM) adalah faktor

3 yang termasuk dalam variabel karena tujuh variabel kolom 3 memiliki hubungan yang signifikan

( di atas 0, 50) dengan faktor 3.

Grafik 2. Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi tingkat kestabilan dalam aspek keuangan

Pada grafik di atas, dimana SOFR cenderung lebih rendah dari LIBOR, dapat diamati bahwa

hal ini menunjukkan berkurangnya risiko pinjaman. Namun demikian, pergerakan SOFR dan

Page 8 of 10

LIBOR bersama-sama menunjukkan bahwa itu menangkap beberapa wawasan tentang perubahan

risiko kredit karena pemberi pinjaman lebih memilih uang tunai likuid daripada agunan yang

tidak likuid.

Contoh hasil dari faktor-faktor yang dibuat ditunjukkan pada Bagan 2. Langkah selanjutnya

adalah mengembangkan tiga indeks tekanan keuangan dengan menggunakan tiga komponen

alternatif berbeda dan sesuai dengan temuan analisis faktor tersebut yang ada pada gambar.

Indikator financial stress pada pasar saham, obligasi, dan subsektor perbankan menjadi elemen

pertama. Indikator financial stress dari IKNB,pasar valuta asing, dan subsektor perbankan masing- masing menjadi faktor kedua dan ketiga, sedangkan indikator financial stress dari IKNB, pasar

valuta asing, dan subsektor perbankan menjadi faktor kedua.

Dilihat dari tabel di atas, dalam 3 tahun terakhir inflasi sebenarnya relatif rendah, misalnya

pada tahun 2021 target yang ditetapkan adalah 3%> tetapi sebenarnya inflasi aktual hanya

menyentuh 1,87%. Nah, target inflasi harus dipenuhi agar perekonomian seimbang. Untuk

menentukan indeks mana yang harus dipakai untuk menghitung tingkat kestabilan aspek

FAKTOR 3

1. RM

2. CMA

XS 3. NIM

FAKTOR 2

1. NPL

2. LDR

3. CAR

4. RM

STABILITAS

SEKTOR

KEUANGAN

INDONESIA

FAKTOR 1

1. IHSG

2. ROA

3. LDR

4. BOPO

5. YIELD_COR

6. YIELD_GOV

Page 9 of 10

keuangan, penting untuk menguji hubungan antara ketiga indeks tekanan keuangan yang dibahas

di atas dan faktor sektor rii Sebab subsektor rill dan juga subsektor keuangan saling bergantung

dan berfungsi salig melengkapi, ketiga indeks tersebut dikontraskan dengan variabel sektor riil.

Suku bunga Bank Indonesia (BI rate) dan inflasi adalah variabel sektor riil yang berfungsi sebagai

perbandingan dari ketiga indeks tersebutkarena inflasi merupakan indikator ekonomi makro dan

BI rate merupakan indikator perbankan. Selain itu, tiga komponen yang mengandung sebelas

indikator tekanan keuangan yang terbukti benar mempengaruhi kedua variabel ini.

5. KESIMPULAN

Tujuan adanya penelitian ini merupakan untuk mengidentifikasi komponen-komponen

indeks financial stress. Berdasarkan temuan studi tersebut, terdapat tiga variabel yang bisa

berfungsi dalam menghitungtingkatkestabilanaspekkeuangan. Loan to deposit ratio (LDR),

pembayaran dan pendapatan operasional (BOPO), pengembalian aset (ROA), indeks harga saham

gabungan (IHSG), imbal hasil obligasi pemerintah (yield gov), dan imbal hasil obligasi korporasi

(yield cor) adalah beberapa di antaranya. indikator tekanan keuangan terdapat pada Faktor 1.

Kredit bermasalah (NPL), rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR), rasio kecukupan modal

(CAR), dan rasio manfaat dana pensiun (RM) merupakan indikator tekanan keuangan yang

termasuk dalam faktor 2, sedangkan bersih margin bunga (NIM), rasio manfaat dana pensiun

(RM), dan CMAX$ adalah indikator tekanan keuangan yang termasuk dalam faktor 3. Untuk

melacak perkembangan stress aspekkeuangan yang ada di Indonesia, digunakan FSI 1 dan FSI 2.

Namun RM dana pensiun ada di sana yang menurunkan stress di FSI 2, maka pergerakan stress di

FSI 2 tidak terlalu diperhatikan. Dalam kasus ini dimungkinkan karena perbankan di Indonesia

tidak memiliki fungsi sebagai lembaga intermediasi yang seharusnya lembaga pengelola dana

pensiun sehingga penerapan FSI 2 di sana kurang tepat.Karena komponen FSI 1 meliputi

subsektor perbankan, pasar obligasi, dan pasar modal, FSI 1 sebaiknya digunakan untuk

memantau evolusi stress yang terjadi pada saat krisis. Karena komponen FSI 1 meliputi pasar

obligasi, subsektor perbankan, dan pasar modal, FSI 1 sebaiknya digunakan untuk memantau

evolusi stress yang terjadi pada saat krisis. Selain itu, dominasi industri perbankan di sektor

keuangan Indonesia membuat FSI 1 begiturentan terhadap gejolak akibat permasalahan finansial.

Daftar Pustaka

Bank Indonesia. (n.d.). Statistik perbankan Indonesia. Diunduh 8 Februari, 2014, dari

http://www.bi.go.id/id/statistik/perbankan/Indonesia/Documents/DataSPIPeriodeThu

n20062012Februari.zip

Berger, A. N., Klapper, L. F., & Turk-Ariss, R. (2009). Bank competition and financial stability.

Journal of Financial Services Research, 35, 99-118.

Gadanez, B., & Jayaram, K. (2008). Measures of financial stability-a review. BIS Irving Fisher Commitee

Bulletin, 31, 365-380.

Hakkio, C. S., & Keeton, W. R. (2009). Financial stress: What is it, how can it be measured, and why

does it matter? Federal Reserve Bank of Kansas City Economic Review, 5-47.

Illing, M., & Liu, Y. (2003). An index of financial stress for Canada. Bank of Canada Working Paper, 14.

Korohama, M. (2013). Financial stress indicator antar subsektor dalam sektor keuangan Indonesia. Skripsi

Sarjana, Universitas Katolik Parahyangan - Bandung.

Lestari, H. D. (2012). Otoritas jasa keuangan: Sistem baru dalam pengaturan dan pengawasan sektor

jasa keuangan. Jurnal Dinamika Hukum, 12, 557-567.

Manurung, M., & Rahardja, P. (2004). Uang, perbankan, dan ekonomi moneter. Jakarta: Lembaga Penerbit

FEUI.

Bank Indonesia (n.d.). tarif BI. diambil dari http://www.bi.go.id/id/monetary/bi- rate/data/Default.aspx pada tanggal 8 Februari 2014.

Page 10 of 10

Bank Indonesia. (n.d.). BI rate. Diunduh 8 Februari 2014, dari http://www.bi.go.id/id/ moneter/bi- rate/data/Default.aspx

Bank Indonesia. (n.d.). Inflasi. Diunduh 8 Februari 2014, dari http://www.bi.go.id/id/

moneter/inflasi/data/Default.aspx

Bank Indonesia. (n.d.) Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/2013 Tentang Perubahan Kedua atas

Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/19/PBI/2010 Tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum pada

Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing. Jakarta.

Bank Indonesia. (n.d.). Stabilitas Keuangan. Diunduh 27 Januari

2014, dari

http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Ikhtisar/Definisi

+SSK/

Bank Indonesia. (n.d.). Statistik ekonomi dan keuangan Indonesia. Diunduh 8 Februari 2014, dari

http://www.bi.go.id/id/statistik/seki/terkini/moneter/Contents/Default.aspx